Selamat pagi Pelangi
Aneh bagi ku,
di fajar kemuning ini kau muncul,
sepertinya langit sudah memutuskan tuk tersenyum,
setelah menangis semalaman…
Selamat datang Pelangi
Bukankah engkau hanya nampak
ketika hujan telah berhasil mengusik dan memburamkan hari
di tengah terik surya ?
Seperti sang Bahagia,
Hanya kan ada dan terasa bermakna
bilamana telah jatuh air mata…
Terima Kasih Pelangi,
Karena dengan kesabaran dan kesabaran
kau datang tuk menyingkirkan buram
dan kemudian melukis hari dengan warna Ilahi
yang teramat indah…
Berdiamlah lebih lama lagi duhai Pelangi,
Ingin senantiasa kunikmati indahmu hingga membekas di hati,
Hingga seumur hidup kan ada senyum bahagia berwarna pelangi,
terukir abadi dalam relung kalbuku…
Selamat pagi Cintaku,
semoga harimu seindah Pelangi…
In accomplice with Ariz
Rasa ku tetap abadi
Namun ku tak lagi sendiri
Buku harian ku dipenuhi dengan catatanmu
Puisi-puisi ku menyambut cintamu
Langkah kaki ku bersamamu
Mendayu dalam nada
Seirama
————————
Ya Allah…
Setiap kedip mataku,
Aku bersyukur atas nikmat ini,
Banyak orang melihat, tetapi buta.
Ya Allah…
Setiap tarikan nafasku,
Aku bersyukur atas karunia ini,
Banyak orang mencium, tetapi tidak mampu membau.
Ya Allah…
Setiap suara yang kudengar,
Aku bersyukur atas berkah ini,
Banyak orang mendengar, tetapi tuli.
Ya Allah…
Setiap desir angin yang kurasa,
Aku bersyukur atas rahmat ini,
Banyak orang merasa, tetapi kebal.
Ya Allah…
Setiap degub & detak jantungku,
Aku bersyukur atas nafs ini,
Banyak orang hidup, tetapi mati.
Ya Allah,
Jangan KAU cabut rasa syukurku ini dari hatiku,
Yang dapat membuatku Buta, Bebal, Tuli & Mati
————————
Ya Rabb…
Terimakasih telah kau hadirkan
Karunia terindah,
Cahaya penerang hidup,
Penyemangat Jiwa,
Yang mengajarkan aku sabar & ikhlas
Yang mampu menjaga jarak, ruang & waktu
————————
Cintaku…
Ingatkan ku kala ego ini tak dapat kubendung
Ingatkan ku kala ku khilaf
Terimakasih atas pengorbananmu
Sayangku…
Maaf,
Aku belum bisa memahami mu sepenuhnya
Aku belum bisa menjadi seseorang yang engkau banggakan
Maafkan aku atas ketidaksempurnaan ini
————————
Dan aku
Takkan pernah berhenti tuk mencintaimu…
/
Apa kau dengar bisikan angin ?
Sejuta perih samar merintihkan luka dalam raga
Lepas ke dunia tanpa bayang
Saat malam menjadi segulung pekat
Dengarlah…
Bisiknya lebih keras dari petir !
Robek kisah hati menjadi keping
Tebar menyebar dalam kelam
berserak pada hening bumi…
Mungkinkah keping kupunguti lagi ?
Merajutnya kembali tuk ku tuturkan padamu ?
Sanggupkah aku ?
Sementara…
Perlahan terangkai bunga tanda
Tentang apa arti semua ini,
Untukmu… ?
Cobalah kau mengerti
Kisah itu sudah terlarung
Dan kini hanya ada…
Kita !!!
/
Sadarkah engkau akan asa yang kau tanamkan ?
Tentang inginmu menunggu ku ?
Dan setelah jiwa ini kau bakar dengan asmara
Kau buat ku kembali terluka dengan hampa
Secepat itukah kau meninggalkanku ?
atau
Selambat itukah aku mengertikan mu ?
Entahlah…
/
Adakah obat penghapus rindu ?
Atau racun pembunuh cinta ?
Adakah kata pemutus harap ?
Atau bencana pemusnah mimpi ?
Hingga kelak…
Ketika pelangi tak lagi indah,
Kala bumi tenggelam dalam hitam dan putih…
Adakah… ???!!!
/
Takkan pernah terlupa
Kala rembulan biaskan lenguhanmu di hening malam
Kala pelangi hadirkan warna terindahnya dalam derai tangismu
Dan bayangmu pun
Semakin menjauh…
Thanx to Za atas bait-bait yang selalu menyadarkan ku
PS:
“Never Cry For Any Relation in Life, Because For The One Whom You Cry, Does Not Deserve Your Tears And The One Who Deserves, Will Never Let You Cry…”
ζ↔ Pekat malam ini telah menyadarkan ku….
/
Kau selalu meminta tuk terus ku temani
Kau selalu berkisah tentang dia,
Sang rupawan yang pernah memberi mimpi-mimpi tentang mahligai Cinta,
Walau tak jua dapat kau gapai mimpi-mimpi itu
Kau selalu mencoba bertahan
Menunggu Cintanya,
Sang pengembara Cinta yang tak pernah puas mengejar impiannya
Dan tak jua dia kembali dalam dekapanmu
/
Ketika kau lelah
Ada derai yang kau senandungkan
Ada sesal yang menyesakkan
dan ada aku yang kau minta tuk mendengarkan
Entah sudah berapa lama ku coba tuk buktikan padamu,
Ada cinta yang nyata dihadapanmu
Namun, lentera dalam hatimu untuk dia, tak pernah padam
/
Begitu juga aku
Mungkin terlalu lama aku menunggu
Walau lelah
Mungkin aku tak berarti dalam hatimu
Walau hanya pelarianmu
Namun
Ini aku
Bukan dia
ζ↔ & Pekat malam ini kembali menyadarkan ku….
When everything else is lost, the future still remains
Salahkah jiwa bila inginkan cinta yang diinginkan?
Haruskah jiwa menerima hanya apa yang terlihat di dekatnya,
tanpa memperdulikan asanya?
Haruskah syukur diwujudkan dengan menerima apa yang ada?
Bila tak ada yang memberi, tapi jiwa ingin diperkaya,
apa yang harus dilakukan?
Cukupkah sabar menjadi penawar,
bila kekosongan tersebut tak pernah terisi seperjalanan hidup?
Yang ada hanya pencarian tanpa ujung..
Yang terasa hanya penantian tanpa akhir..
Dimanakah tempat beristirahat yang hakiki untuk jiwa?
Akankah kudapatkan sandaran itu?
Jiwaku telah lelah berkelana,
Namun tak pernah kutemukan jiwa yang sepenuhnya ingin aku bersandar..
Yang kutemukan hanya dermaga, tempat berlabuh sesaat,
Bukan pulau impian yang menginginkan..
Kaki ku menginjaknya,
Tanganku menghias dan merawatnya,
Fikirku tercurah padanya,
Asaku mengharapnya,
Hatiku mencintanya..
Namun bukan jiwa yang ingin menenteramkan jiwaku..
Tak pernah terbesit tuk meneteskan air mata karena mu
Tapi kali ini,
Mengapa derai ini tak dapat ku bendung?
Mengapa tak bisa ku nikmati pesonamu hanya dalam imaji saja…
Hal ini terasa sulit tuk ku lalui
Walau jarak tlah ku bentangkan
Namun bayang mu kian melekat erat
Adakah asa ini semu?
Entahlah…
Aku hanya bisa,
Mencintai tanpa pasti…
Teman baik ku berkata:
Hati hanya sebagian kecil dari tubuh
Lalu mengapa kau biarkan ia mengendalikan seluruh tubuh ?
Masih kutemui…
Gumpalan asa dibalik awan kelabu
Sejumput rindu di ladang tandus
Kembali ku rengkuh
Angin malam dalam sembunyiku
Menatap usang lembaran hari
Dalam sebuah dunia yang
Terbunuh sepi
Kau hanya terdiam
Ketika sedihmu hadir
Ketika bebanmu memuncak
Ketika airmatamu tak tertahan
Kau tak sendiri
Aku bersamamu
Disampingmu
Rangkul dirimu
Dekap dirimu
Coba tenangkanmu
Hapus airmatamu
Dan aku hanyalah pelarianmu
Aku lelah dengan itu semua
Ruangan ini sudah tahu betapa muaknya aku !
Tahukah kamu ?
Berapa sering hati ini terjebak imajimu ?
Berapa banyak keringat, air mata, ceria untukmu ?
Saat rasa mulai melenyap
Namun perlahan kau sinari kembali
Kamu tahu ?
Aku lelah menghadapinya !
"Aku bukan belahan jiwamu"
Itu katamu menjawab kecintaanku padamu
Kau ingin aku mengerti rasamu terhadapnya
Kau ingin aku mengerti kebahagiaanmu dengannya
Kau tak pernah perduli dengan apa yang kurasakan
Kini
Semua telah terlambat
Semua telah usai
Jangan pernah kau berharap aku ada (lagi)
Akhiri saja semua sampai disini
Semoga tak ada air mata dari dirinya lagi
Semoga tak ada air mata untuk kepergianku
Maafkan aku
Tak pernah bisa menjadi seperti dia
Tak pernah bisa mengertikan dirimu
Ku lihat bulan bersembunyi di sudut kerling matamu.
Sadarkah dirimu,
selama ini,
aku selalu mencuri tatapanmu.
Ada
yang salah pada diriku.
Aku
masih tak mengerti apa yang kurasakan,
tak seperti biasanya…
Mungkin semua karenamu
Percayakah kau padaku?
Meskipun aku bukan yang engkau inginkan
Jauh dari kesempurnaan yang kau puja
Bukan pria sempurna
Seandainya
bisa ku katakan:
"aku mencintaimu"
Namun
aku selalu ragu,
Bukan karena kekuranganmu
Maupun kelebihanmu
Ada yang mati pada hatiku.
Ketika hidup ku harus memilih,
Harus
kuhadapi kenyataan,
tanpamu,
atau tanpa keluargaku.
Rinai
menggelantung dari kerinduan ku…
Diduapertiga malam,
bersujud mengiba,
malam,
bawa derai.
Mampukah membasuh segala keraguan?
Mampukah
ku nikmati semua tanpamu?
Mampukah ku nikmati semua tanpa keluargaku?
Pernah
ku katakan dalam hati,
Cobalah nikmati semua yang kan
terjadi.
Kuharap
kau mengerti
Berharap waktu kan menjawab semua ini
Dan bila waktu tak pernah membuatmu mengerti…
Maka ijinkanlah
Selama masih bisa menghembuskan nafas
Aku ingin engkau aku kenang
Bertahan selalu mencintaimu…
Kau bagiku adalah bintang yang paling terang,
berkelip di angkasa malam seakan tak pernah lelah memberi keceriaan di dunia.
Kau bagiku adalah cinta yang paling mesra.
Perasaan yang paling dalam,
kerinduan yang tak mungkin padam.
Ketika engkau tampakkan wajah,
kau selalu tersenyum sambil kedipkan mata.
Kau menggodaku dengan binar yang tak pernah pudar.
Tak pernah lupa setiap malam aku berdoa,
agar suatu saat aku bisa menggapaimu,
menjadi kabut yang ‘kan berarak menujumu.
Tak pernah lelah aku bersujud di gelap malam,
mengurai air mataku,
berharap suatu saat nanti cahayaku menjemputmu di sina.
Di penantianmu.
Kau mungkin tak pernah tahu.
Kau mungkin tak ‘kan pernah menyangka sedalam apa perasaan yang kupendam.
Aku memang tak pernah berkata.
Aku memang tak pernah terbuka.
Seharusnya aku meminta maaf pada hatiku yang teramat lelah menyimpan rindu,
karena kekeluan lidahku tak mampu mengurai semua takkala kita bersua.
Tapi bukankah memang seharusnya begitu?
Menyimpan perasaan hanya dalam dada.
Menjauhkan diri dari penyakit hati yang mampu merusak iman kita,
meski cinta hampir tak mampu lagi dikekang?
Arggh… khayalanku melambung lagi kepadamu malam ini.
Sejuta mimpi mengganggu,
ketika kau mulai hadir dalam hidupku.
Tidakkah engkau tahu,
setiap saat aku selalu merindukanmu?
Sejujurnya,
aku hampir tak kuat lagi menahan rindu.
Ingin rasanya aku pergi mencarimu,
membawa jutaan harap yang tertanam semakin dalam di dadaku.
Mewujudkan mimpi-mimpi.
Tapi…
In accomplice with Ariz
Di nata mu ku lihat asa
Kau bilang itu Luka
Di relung mu ku dengar rasa
Kau bilang itu Sunyi
Dalam angan mu tertanam
Tuk lepaskan semua beban
Dalam lirih canda mu tersirat
Impian mu terajut tak pernah nyata
Kisah ini berawal dari hati yang sepi
karena jiwanya terbelah setengah,
sementara setengah yang lain terlempar entah kemana
Jarak menjadi tirai
namun waktu membuka jalan tuk ditempuh
Bagian yang satu mencari sebagian dirinya yang lain
di antara ruh yang setengah hidup & setengah mati
Mencari serupa dari alur & jalur
yang dipahatkan pada keduanya
Sama sama merah oleh gairah
Sama-sama biru oleh rindu
Kukan selalu mencintai
Kukan selalu menghargai
Kukan selalu memuja
dari semua yang terpancar dalam dirimu
Ketika kebahagian telah menjadi mahkotamu
Ketika kedamaian kan selalu menyelimutimu
walau harus pergi, menghilang ditelan sepi
Aku rela…
Walau pun harus turun ke dunia orang mati
Aku rela…
Tuk semua itu…apapun aku rela…
PS: sabar iiiaaaa http://profiles.friendster.com/15131892