<

Patah sayap awan
kita mengenalnya sebagai hujan
hujan mulai sering menyapa bumi
seperti air yang ruah dimata mu

Waktu kian merintih untuk kegalauannya
ketika mentari menjelang keangkuhannya
tiada arti tuk meratapinya
hanya tangis sepeninggalannya

/

Diam,
Kau Memilihnya,
Membisukan aku,
Dalam tertanya.

takda lagi tawa lebar membangga
takda lagi senyum sinis menghina
hanya sebuah harapan semu
dan penyesalan yang semakin menghimpit

Menangislah,
setajam mimpimu
pisahkanlah,
akhir kisah hidupmu
tertawalah,
di batas segala dayamu
persatukanlah ketidakberdayaanmu

/

Bunga tak kubawa
Saat datang menyapa
Bersimpuh di ruangmu
Wangi melati
Masih tersisa di situ

Retak tanah jalan setapak
Kulalui dalam perih
Kembali lagi aku ke sini
Dalam duka yang beda
Kehilangan yang sama

Bunga jiwaku tak berubah
Selalu buatmu
Mekar di tengah kemarau
Tersirami rindu padamu

——————————-

NB: requested by Bayu, http://bayoeaza.wordpress.com/2007/11/20/patah-sayap-bidadari/

November 22nd, 2007 at 6:35 am


One Response to “Patah Sayap Bidadari”
  1. 1
      Santriani says:

    Bunga jiwa ku pun tak berubah
    tetap sama untukmu
    meski kini kita tlah berada di alam yang berbeda
    jauh di lubuk hatiku
    masih tersimpan cinta untukmu
    ku masih dan akan tetap mengukir namamu di hatiku