Kau bagiku adalah bintang yang paling terang,
berkelip di angkasa malam seakan tak pernah lelah memberi keceriaan di dunia.
Kau bagiku adalah cinta yang paling mesra.
Perasaan yang paling dalam,
kerinduan yang tak mungkin padam.
Ketika engkau tampakkan wajah,
kau selalu tersenyum sambil kedipkan mata.
Kau menggodaku dengan binar yang tak pernah pudar.
Tak pernah lupa setiap malam aku berdoa,
agar suatu saat aku bisa menggapaimu,
menjadi kabut yang ‘kan berarak menujumu.
Tak pernah lelah aku bersujud di gelap malam,
mengurai air mataku,
berharap suatu saat nanti cahayaku menjemputmu di sina.
Di penantianmu.
Kau mungkin tak pernah tahu.
Kau mungkin tak ‘kan pernah menyangka sedalam apa perasaan yang kupendam.
Aku memang tak pernah berkata.
Aku memang tak pernah terbuka.
Seharusnya aku meminta maaf pada hatiku yang teramat lelah menyimpan rindu,
karena kekeluan lidahku tak mampu mengurai semua takkala kita bersua.
Tapi bukankah memang seharusnya begitu?
Menyimpan perasaan hanya dalam dada.
Menjauhkan diri dari penyakit hati yang mampu merusak iman kita,
meski cinta hampir tak mampu lagi dikekang?
Arggh… khayalanku melambung lagi kepadamu malam ini.
Sejuta mimpi mengganggu,
ketika kau mulai hadir dalam hidupku.
Tidakkah engkau tahu,
setiap saat aku selalu merindukanmu?
Sejujurnya,
aku hampir tak kuat lagi menahan rindu.
Ingin rasanya aku pergi mencarimu,
membawa jutaan harap yang tertanam semakin dalam di dadaku.
Mewujudkan mimpi-mimpi.
Tapi…
In accomplice with Ariz
perasaan hati yang tak tersampaikan
hanya dapat terurai oleh tulisan
terkadang membuat hati menjadi berat beban
menampung segala rasa yang tak terucapkan
memang butuh sedikit keberanian
July 1, 2008 @ 10:17 pmpun walau untuk sekedar mengungkapkan
bukan hanya keinginan yang membumbung di angan
semuanya perlu di wujudkan
kata yang tersimpan pada lubuk hati
mungkin membuat sakit juwa
kata yang butuh keberanian untuk mengeluarkannya
dan hanya jika hati yang berkuasa, kemana akal akan berpijak……
July 2, 2008 @ 2:08 amsetidaknya..
ketika hati lebih mampu menyimpan
ketika itu hati merasakan puasnya mencintai yang Maha Tinggi
melebihi cinta kepada makhluq yang Maha rendah..
setidaknya..
July 10, 2008 @ 6:48 amketika hati memutuskan bungkam
menjaga gejolak agar tidak meledak
menyalahi kodrat illahi
ketika itu hati merasakan
keindahan cinta kepada Rabb
meski sakit membunuh imagi..