<

Salahkah jiwa bila inginkan cinta yang diinginkan?
Haruskah jiwa menerima hanya apa yang terlihat di dekatnya,
tanpa memperdulikan asanya?
Haruskah syukur diwujudkan dengan menerima apa yang ada?
Bila tak ada yang memberi, tapi jiwa ingin diperkaya,
apa yang harus dilakukan?

Cukupkah sabar menjadi penawar,
bila kekosongan tersebut tak pernah terisi seperjalanan hidup?
Yang ada hanya pencarian tanpa ujung..
Yang terasa hanya penantian tanpa akhir..

Dimanakah tempat beristirahat yang hakiki untuk jiwa?
Akankah kudapatkan sandaran itu?
Jiwaku telah lelah berkelana,
Namun tak pernah kutemukan jiwa yang sepenuhnya ingin aku bersandar..

Yang kutemukan hanya dermaga, tempat berlabuh sesaat,
Bukan pulau impian yang menginginkan..
Kaki ku menginjaknya,
Tanganku menghias dan merawatnya,
Fikirku tercurah padanya,
Asaku meng
harapnya,
Hatiku mencintanya..
Namun bukan jiwa yang ingin menenteramkan jiwaku..

October 22nd, 2008 at 9:36 pm


2 Responses to “Tentang Jiwa”
  1. 1
      ethie says:

    Nice poem..
    Di bawahnya ditambah gini arka ;

    Ah, dimanakah adinda?

    heeeeeeee

  2. 2
      za_azzahra says:

    jiwa adalah bagian terhalus dari manusia
    tak tergambar wujudnya
    hanya terasa keberadaannya

    bagaimana kita akan mengerti spt apa jiwa
    bagaimana kita akan bisa berkata beginilah jiwa
    bila kadang kita sdiri tak mngerti jiwa itu ada….

    rasakanlah…
    jiwa itu adalah getaran samar yg sering berkata tapi tak terdengar
    jiwa itu adalah alunan lembut yg sering bernyanyi tapi tanpa nada…